Panel Staff

BERTANYA ITU CERDAS

Almarhum Ibu saya adalah guru terbaik dalam hidup saya. Beliau mengajarkan saya pentingnya bertanya daripada bercerita. Antusias mendengarkan orang lain daripada berbicara. Saat pulang sekolah, biasanya saya duduk di meja makan dekat dapur sambil menunggu Ibu menyiapkan makan siang. Saya bercerita tentang kejadian-kejadian hari itu di sekolah. “Hm, terus?” Saya antusias melanjutkan cerita tentang kegiatan saya hari itu. “Hm, luar biasa, lalu? Saya kembali nyerocos bercerita. Setiap hari saya tidak sabar bergegas segera pulang, hanya untuk bercerita lagi kepada Ibu saya. Saya merasa dihargai, diterima dan dekat dengan beliau. Sungguh ini pelajaran yang luar biasa.

Saya menerapkan keterampilan bertanya ini sampai saat ini. Saya selalu antusias mendengarkan anak-anak saya bercerita, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana. Mereka jadi percaya diri bercerita apapun tanpa rasa takut. Takut tidak penting, disalahkan, dimarahi, dihakimi, diceramahi, dihujat, dan lain sebagainya. Mereka jadi dekat dengan saya. Pada sesi konsultasi dalam banyak pelatihan yang sering saya lakukan, saya sangat takjub dengan dampak dari keterampilan ini. Banyak sekali ide-ide kreatif dan solusi unik yang pas buat client, justru saya temukan dari cerita-cerita dan ungkapan-ungkapan perasaan mereka. Bukan dari ilmu pengetahuan yang ada di otak saya. Dan itu sungguh meningkatkan kekayaan intelektual saya dan menambah jam terbang pengalaman saya.

Bertanya akan memindahkan energi positif Anda kepada orang lain. Menimbulkan perasaan diterima dan harga diri orang lain, dan pada saat yang sama Anda memperoleh apa yang Anda butuhkan dan inginkan. Sebuah perintah sekalipun akan terasa berbeda penerimaannya apabila dikemas dalam pertanyaan sederhana. Seorang pramugari pernah mendekati saya dan mencondongkan tubuhnya kearah saya, tersenyum dan bertanya, “Apakah kursinya sudah ditegakkan, Bapak?” Sungguh sebuah perintah yang enak didengar dan dengan senang hati saya lakukan.

Tentu saja tidak semua pertanyaan adalah baik. Bertanya disini bukan untuk mencari perhatian, menguji kemampuan intelektual orang lain, memojokkan, menginterogasi, mempermalukan, dan merendahkan orang lain. Bertanya yang dimaksud disini adalah menghargai orang lain, memberi sikap penerimaan, berpusat pada orang lain dan bukan pada diri sendiri. Bertanya juga untuk belajar, menegaskan apa yang sudah Anda ketahui, menguji apa yang Anda pikirkan, mencairkan suasana dan masuk secara pribadi pada orang lain. Anda perlu mengasah keterampilan bertanya dan menjadi inisiator untuk mengajukan pertanyaan kepada siapapun. Pimpinan, rekan kerja, anak buah, dan client Anda.

Sungguh menakjubkan, ternyata banyak sekali ilmu, peluang, dan ide-ide kreatif justru muncul dari mengajukan pertanyaan, bukan bercerita. Bertanya membuat Anda memperoleh informasi-informasi baru, data-data terkini, menghindari salah intrepretasi, menghilangkan prasangka, meluruskan, mengkonfirmasi, memecahkan masalah, dan mengkaji secara tepat persepsi, perasaan, sikap dan posisi orang lain. Itulah kenapa orang yang sukses adalah orang yang lebih banyak bertanya daripada bercerita. Mendengar daripada berbicara. Kalau Anda punya pikiran bertanya itu “tampak bodoh”, Anda salah besar. Bertanya itu “cerdas”.

Comments are closed.

Kategori
Pengunjung