Panel Staff

Bahagia Bebas Nomophobia

Smartphone sudah menjadi bagian dari hidup hampir semua masyarakat modern. Mereka berkomunikasi, berbagi cerita, bergosip, cari hiburan, lihat berita, dan bahkan curhat lewat smartphone. Facebook, twitter, istagram, skype, google+, YM, line, whatsapp, path, skype, kakao talk, wechat, messageme, dan masih banyak lainnya, turut mempersubur ketergantungan masyarakat modern terhadap smartphone. Apalagi bulan November 2013, jutaan penggguna smartphone di dunia sudah bisa menikmati BBM. Dunia smartphone pun menjadi semakin menggoda. Banyaknya smartphone murah meriah dan service provider menawarkan paket data 5 ribu dan 10 ribu membuat gaya hidup seperti ini juga menjangkiti pelajar, mahasiswa, blue collar (pekerja kasar), dan masyarakat kelas bawah.

Mereka tidak bisa hidup bahagia tanpa smartphone dan alat-alat pendukungnya. Mood mereka bisa berubah buruk jika masuk daerah yang tidak didukung 3G. Mereka bisa panik jika telponnya ketinggalan. Mereka bisa menjadi cemas luar biasa jika smartphone low bat dan berubah menjadi ketakutan jika mereka lupa bawa charger dan powerbank. Mereka bisa sangat murung jika smartphone nya kehabisan pulsa. Mereka bisa menjadi emosional begitu smartphone nya tidak berfungsi. Dua bulan menunggu perbaikan klaim asuransi, bisa menjadi masa yang sangat buruk. Sangat tidak membahagiakan. Mereka tidak bisa tahu kabar dari teman-teman facebook nya. Tidak bisa melihat timeline teman twitter nya. Tidak bisa bercerita lewat foto dengan teman instagram nya. Tidak bisa curhat dengan teman BB nya. Tidak bisa senyum-senyum melihat moment teman path nya, dan lain sebagainya. Akhirnya, kebahagiaan mereka betul-betul sangat bergantung pada gadget yang bernama smartphone.

Jika Anda termasuk kategori yang tidak bahagia, cemas dan takut jika terganggu atau tidak bisa mengakses Mobile phone, Anda harus mulai waspada. Karena Anda sudah mengidap salah satu jenis kelainan psikologis OCD (Obsessive Compulsive Dissorder) yang disebut “NOMOPHOBIA” (no mobile phone phobia). Studi tentang nomophobia pertama dilakukan di Inggris. Hasil survey SecurEnvoy bulan februari 2012 menemukan 66% masyarakat di Inggris mengidap nomophobia. Dan ternyata 70% wanita menyatakan sangat cemas kalau berjauhan dengan ponselnya. Kondisi tersebut tentu tidak jauh berbeda dengan belahan dunia lainnya. Prosentase pengidap nomophobia pada tahun 2014 diperkirakan sudah mencapai 85%. Apalagi untuk bangsa di Asia yang dikenal lebih kekeluargaan dan harmony.

Apakah Anda termasuk pengidap Nomophobia? Kemungkinan besar jawabannya adalah iya. Tinggal kadarnya saja. Apakah masih stadium satu atau sudah stadium tiga. Kelainan psikologis ini jangan dianggap biasa. Setiap kelainan jiwa harus disembuhkan. Dampaknya sangat berbahaya. Mulai dari Ibu rumah tangga menggoreng ikan sampai gosong karena nomophobia, sampai dengan renggangnya hubungan dengan anak dan pasangan. Curhat yang berlebihan berupa picture, status, lagu yang sedang didengar adalah media pengungkapan rahasia hati yang sebenarnya bersifat privacy dan tidak boleh sembarang orang tahu. Bahkan ada yang kebablasan menjadi pengungkapan aib diri dan keluarganya. Ajang pamer dan riyak dalam berbuat kebajikan. Sampai saat umrohpun lebih banyak berbagi picture daripada jumlah tawafnya selama di tanah suci. Mempersubur wanita yang mengidap penyakit exhibitionism. Mempersubur wanita/pria yang punya penyakit narcism. Camera360 telah membangun kecantikan/ketampanan artificial yang semu dan menipu diri sendiri. Media sosial telah menjadi pelampiasan dan pelepasan rasa galau yang salah alamat dan salah arah.

Hasil survey juga membuktikan bahwa karyawan menurun kinerjanya karena nomophobia dan para pelajar menurun prestasi belajarnya. Singkat kata, penyakit ini harus disembuhkan. Kabar baiknya adalah, Anda bisa menterapi diri Anda sendiri dan pelan-pelan terbebas dari nomophobia.

Menyembuhkan nomophobia dimulai dengan menggunakan smartphone seperlunya secara terus menerus dan mulai menambah kepekaan dan kegairahan berinteraksi dengan sahabat, kerabat, sanak family dan keluarga secara fisik, daripada asyik dengan teman-teman virtual.

Berikut ini beberapa tips menyembuhkan nomophobia.
Pertama, mematikan smartphone saat tidur; mematikan akses wifi dan mobile data selama Anda bekerja di kantor dan meeting; mematikan akses wifi dan mobile data selama bercengkerama dengan keluarga di rumah.
Kedua, punya nyali mengurangi media sosial yang diikuti dan mengurangi jumlah teman virtualnya. Misalnya menutup beberapa account media sosial dan menyisakan satu atau dua saja. Saya punya pengalaman menutup account facebook tiga tahun yang lalu dan beberapa account media sosial lainnya. Membatasi teman BB hanya pada mitra bisnis, sahabat dan keluarga dekat saja dan twitter hanya sebagai media komunikasi dengan mahasiswa. Meskipun awalnya berat dan merasa terkungkung, ternyata akhirnya malah bermakna membebaskan.
Ketiga, jika ada waktu luang, gunakan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat daripada memplototi smartphone, seperti berolahraga, membaca, mengerjakan hobi, bercanda dengan anak, bercengkerama dengan suami/istri, dan lain sebagainya.
Keempat, mulai berani menerapkan “wifi and mobile data free day” setiap hari sabtu dan minggu. Jadi Anda hanya bisa akses dan diakses sms dan telp, tapi Anda terbebas dari media sosial.
Kelima, mendekatkan diri kepada Tuhan. Curhat justru kepada Tuhan. Berdoa dan berharap Inayah dan RahmatNya. Bukan malah curhat pada teman virtual, buka aib diri kepada teman virtual. Sebagian dari mereka sebenarnya malah senang dengan setiap penderitaan yang tersingkap dan kecewa dan iri dengan setiap kesenangan yang terungkap.
Keenam, bersabarlah menahan kecemasan dan ketakutan selama menerapkan tips-tips diatas. Perubahan itu akarnya pahit tapi buahnya manis.

Jika teori Stephen R. Covey ( The 7 habits) menyebutkan perubahan perilaku membutuhkan pembiasaan selama 14 hari, ternyata saya membutuhkan lebih lama, yaitu 1 bulan. Saya optimis Anda bisa lebih cepat lagi. Gunakan smartphone seperlunya untuk hal-hal yang positif. Pastikan smartphone hanya sebagai alat untuk akselerasi bisnis dan media untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas diri Anda. Jangan naïf menggantungkan kebahagiaan Anda hanya pada smartphone. Selamat mencoba. Selamat terbebas dari nomophobia dan selamat menikmati kebahagiaan sejati.

Comments are closed.

Kategori
Pengunjung