Panel Staff

Archive for September, 2011

Homeschooling Menjadikan Anak Egois dan Individualis? = SALAH BESAR!

Ini satu tuduhan yang sering ditimpakan kepada anak-anak homeschooling yang tak bersalah itu.

Aneh ya, padahal orang-orang yang bilang begitu pun sebenarnya tidak pernah bertemu dengan anak homeschooling sebelumnya.

Berikut ini pengalaman nyata orang tua yang telah menyekolahkan putrinya di homeschooling.

“Semasa putriku Kanae ikut di homeschooling, pernah juga aku mendapat nasihat begitu. Padahal dia bukan main manisnya. Sama adik selalu mengalah. Kalau adiknya aku marahi, dia yang tidak terima dan membela. Egois? Individualistis? Tidak sama sekali. Iri dan dengki dengan adiknya? Tidak pernah terjadi.

Aku rasa itu karena dia mencontoh orang-orang dewasa yang berinteraksi dengannya. Kami, orang dewasa, baik dan sayang terhadapnya, maka dia bersikap baik dan sayang juga terhadap adiknya.

Setelah disekolahkan di sekolah umum (konvensional), putriku berubah drastis. Pulang sekolah, yang pertama kali dilakukan: kalau tidak merengek-rengek tak jelas, pasti membuat adik menangis. Lalu dia menangis karena kumarahi. Huwaa.. nangis semua. Cape’ deeh…

Sementara orang yang bertanggung jawab menyekolahkan malah tidak pernah harus menghadapi masalah ini dan dia bisa berbangga-bangga di kantor karena anaknya ranking.

Kenapa begitu? Bukankah di sekolah banyak teman, bisa belajar berbagi dan mengasihi yang lain?

Kenyataannya, di sekolah yang terjadi bukan sosialisasi indah seperti itu. Kanae bercerita, celananya dipeloroti teman yang bandel, atau tadi di sekolah disiram teh oleh teman, tasnya dibuang ke luar kelas, dan sebagainya. Yang aku takutkan, kalau dia jadi menganggap dirinya wajar diperlakukan tidak hormat oleh orang lain.

Gurunya tidak berbuat apa-apa? Yah… yang namanya guru hanya bisa bereaksi setelah kejahatan terjadi. Bahkan dia sering tidak tahu, kan sibuk juga mengurusi hal-hal lain. Anak-anak nakal itu pun tidak pernah kapok meskipun ketahuan. Mereka sekedar bereaksi melampiaskan stres, mereka butuh berada bersama orangtua, tetapi malah dikirim ke sekolah.

Aku tidak menyalahkan putriku itu kalau dia jadi ketakutan dan diam saja di sekolah, membuat gurunya sangat khawatir. Papanya pernah marah-marah kepadaku soal keluhan gurunya itu. Kata dia, ini gara-gara Kanae tidak disekolahkan lebih awal. Ini pasti gara-gara Kanae pernah homeschooling. Dia bilang, aku ikut homeschooling sekadar cari sensasi.

Aku sakit hati dong. Bukannya gurunya ya yang tidak becus menjaga keselamatan anakku? Memangnya aku punya kendali apa di sekolah? Memangnya aku yang mempengaruhi dia supaya jadi penakut? Aku kan di rumah. Buktinya kita kan tahu sendiri, dia supel dan peramah kalau sekolah sedang libur.

Untung dong pernah homeschooling. Bukankah kalau dia disekolahkan lebih awal, pasti aku jadi tidak tahu kalau dia sebenarnya manis dan baik hati? Pasti aku tidak akan pernah tahu, yang terjadi saat ini reaksi normal akibat lingkungan sosialisasi yang buruk.

Wah, kalau ingat-ingat begini, aku jadi kesal pada orang-orang yang menuduh anak homeschooling itu egois. Mungkin mereka senang ya sekarang, putriku punya masalah yang sama dengan anak-anak mereka.

Tetapi putriku cerdas dan anak-anak mereka tidak. Oh, betapa naifnya… melimpahkan seluruh tanggung jawab pendidikan pada sekolah.”

Alumni Homeschooling yang menjadi Tokoh Dunia

Homeschooling itu tak memiliki bentuk tunggal. Latar belakang orangtua beragam, keyakinan dan nilai-nilainya beragam, alasan memilih homeschooling beragam, demikian pun anak-anak homeschooling beragam.

Ada yang scholar, ada yang seniman. Ada yang scientist, ada yang artis.

Yang pasti, homeschooling memberikan kesempatan untuk tumbuhnya setiap potensi secara maksimal. Sebab, yang dipelajari dan dilakukan anak tak diseragamkan; tetapi sesuai model homeschooling yang dipilih, menyesuaikan dengan potensi yang dimiliki anak dan kondisi keluarga.

Berikut ini beberapa tokoh masa kini yang tumbuh dalam pendidikan homeschooling dengan beragam warna.

1. Julian Assange, pendiri situs Wikileaks

Julian Assange adalah tokoh yang sedang mendapat sorotan di dunia karena telah membocorkan dokumen-dokumen rahasia pemerintah dan militer Amerika Serikat melalui situs Wikileaks yang didirikannya. Dia adalah sosok seorang yang memberontak terhadap sistem politik korup yang sedang menguasai dunia saat ini. Akibatnya, dia dikejar oleh pemerintah Amerika Serikat yang ingin menangkapnya.

Julian Assange menjalani homeschooling selama beberapa tahun sambil melakukan perjalanan bersama orangtuanya yang memiliki perusahaan teater keliling. Saat dewasa, dia terus menjalani hidup berpindah-pindah; dan itu sesuai dengan kondisinya saat ini yang menjadi target pembunuhan dan pemburuan karena apa yang dilakukannya.

2. Condoleezza Rice, menteri luar negeri AS

Condoleezza Rice adalah wanita berkulit hitam pertama yang menjadi menteri luar negeri Amerika Serikat. Dia menjadi menteri luar negeri pada saat pemerintahan George W. Bush. Majalah Forbes pernah menobatkannya sebagai “The Most Powerful Woman in the World”. Saat ini dia menjadi pengajar di Stanford Graduate School of Business.

Angelina Rice, ibu dari Condoleezza Rice, berhenti dari pekerjaannya sebagai guru musik di SMA untuk mendidik homeschooling buat anak perempuannya itu.

3. Erik Demaine, profesor matematika

Erik Demaine adalah professor termuda yang pernah dimiliki The Massachusett Institute of Technology (MIT). Dia menjadi dosen pada usia 20 tahun. Dia adalah ahli matematika origami, yang menggunakan model origami untuk memahami konsep matematika dan menerapkannya dalam berbagai disipling seperti arsitektur, robotik, dan biologi molekular.

Demaine menjalani homeschooling sambil melakukan perjalanan keliling Amerika Serikat bersama ayahnya, seorang pandai emas (goldsmith) dan glassblower. Demaine mulai kuliah saat usia 12 tahun, menyelesaikan sarjana pada usia 14 tahun. Selain seorang jenius di bidang matematika dan komputasi, Demaine adalah seorang seniman yang karyanya dipajang di the Museum of Modern Art dan dijadikan sebagai koleksi permanen di museum itu.

Masih ada sosok-sosok homescholing lain yang terus bertumbuhan di berbagai penjuru dunia. Ada The Jonas Brothers (grup musik), Margaret Atwood (penulis), Francis Collins (saintis), Akiane Kramarik (pelukis), dan sebagainya.