Panel Staff

Archive for April, 2011

Tantangan, Kekuatan, dan Kelemahan Home Schooling

A. Tantangan Home Schooling

Dalam perkembangannya, homeschooling juga menghadapi beberapa tantangan, yaitu:

1. Homeschooling tunggal

  • Sulitnya memperoleh dukungan/tempat bertanya, berbagi dan berbanding keberhasilan
  • Kurang tempat sosialisasi untuk mengekspresikan diri sebagai syarat pendewasaan
  • Orang tua harus melakukan penilaian hasil pendidikan dan mengusahakan penyetaraannya

2. Homeschooling majemuk

  • Perlu kompromi dan fleksibilitas jadwal, suasana, fasilitas dan kegiatan tertentu
  • Perlu ahli dalam bidang tertentu walaupun kehadiran orang tua harus tetap ada
  • Anak-anak dengan keahlian/kegiatan khusus harus menyesuaikan/menerima lingkungan lainnya dengan dan menerima perbedaan-perbedaan lainnya sebagai proses pembentukan jati diri
  • Orang tua masing-masing penyelenggara homeschooling harus menyelenggarakan sendiri penyetaraannya

3. Komunitas homeschooling

  • Perlunya kompromi dan fleksibilitas jadwal, suasana, fasilitas dan kegiatan tertentu yang dapat dilaksanakan bersama-sama
  • Perlunya pengawasan yang professional sehingga diperlukan keahlian dalam bidang tertentu walaupun kehadiran orang tua harus tetap ada
  • Anak-anak dengan keahlian atau kegiatan khusus harus juga bisa menyesuaikan dengan lingkungan lainnya dan menerima perbedaan-perbedaan lainnya sebagai proses pembentukan jati diri.

B. Kekuatan Home Schooling

Sebagai sebuah pendidikan alternatif, homeschooling juga mempunyai beberapa kekuatan dan kelemahan. Kekuatan/kelebihan homeschooling adalah:

  • Lebih memberikan kemandirian dan kreativitas individual bukan pembelajaran secara klasikal
  • Memberikan peluang untuk mencapai kompetensi individual semaksimal mungkin sehingga tidak selalu harus terbatasi untuk membandingkan dengan kemampuan tertinggi, rata-rata atau bahkan terendah
  • Terlindungi dari tawuran, kenakalan, NAPZA, pergaulan yang menyimpang, konsumerisme dan jajan makanan yang malnutrisi
  • Lebih bergaul dengan orang dewasa sebagai panutan
  • Lebih disiapkan untuk kehidupan nyata
  • Lebih didorong untuk melakukan kegiatan keagamaan, rekreasi/olahraga keluarga
  • Membantu anak lebih berkembang, memahami dirinya dan perannya dalam dunia nyata disertai kebebasan berpendapat, menolak atau menyepakati nilai-nlai tertentu tanpa harus merasa takut untuk mendapat celaan dari teman atau nilai kurang
  • Membelajarkan anak-anak dengan berbagai situasi, kondisi dan lingkungan sosial
  • Masih memberikan peluang berinteraksi dengan teman sebaya di luar jam belajarnya

C. Kelemahan Home Schooling

  • Anak-anak yang belajar di homeschooling kurang berinteraksi dengan teman sebaya dari berbagai status sosial yang dapat memberikan pengalaman berharga untuk belajar hidup di masyarakat
  • Sekolah merupakan tempat belajar yang khas yang dapat melatih anak untuk bersaing dan mencapai keberhasilan setinggi-tingginya
  • Homeschooling dapat mengisolasi peserta didik dari kenyataan-kenyataan yang kurang menyenangkan sehingga dapat berpengaruh pada perkembangan individu
  • Apabila anak hanya belajar di homeschooling, kemungkinan ia akan terisolasi dari lingkungan sosial yang kurang menyenangkan sehingga ia akan kurang siap untuk menghadapi berbagai kesalahan atau ketidakpastian

Salah satu lembaga yang menyelenggarakan program pendidikan homeschooling yang sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam penyelenggaraan pendidikan yang bekualitas adalah Cendekia Homeschooling. Lembaga homeschooling yang berada di Yogyakarta ini diharapkan bisa memberikan solusi yang nyata dan pasti kepada para orang tua yang ingin memberikan pendidikan kepada putra-putrinya melalui homeschooling.

HOMESCHOOLING, Indahnya Mendidik Anak di dalam Rumah

Untuk publik Indonesia, perbincangan mengenai homeschooling belum begitu tersebar luas. Namun di luar negeri, khususnya di Amerika, homeschooling telah diaplikasikan sejak dekade 1970-an. Gerakan ini diawali oleh ketidakpuasan sejumlah orang tua terhadap pola pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah negeri, yang tak bebas dari ancaman pergaulan bebas. Fenomena ini cukup unik karena seiring kian vitalnya peran institusi pendidikan, orang tua justru memilih mendidik sendiri putra-putri mereka.

Homeschooling bukan sekadar memindahkan institusi sekolah ke dalam rumah, tapi lebih dari itu merupakan proses perjalanan sebuah keluarga dalam mengarungi samudra kehidupan. Homeschooling adalah alternatif bagi pendidikan modern yang dirasa minus nilai-nilai moralitas dan religiusitas, dimana anak-anak diajar bertanggungjawab sejak dini terhadap setiap perilaku mereka. Bertanggung jawab bagi keluarga, bagi masyarakat, dan lebih penting bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri.

Pilihan menerapkan homeschooling didasarkan pada fungsi keluarga itu sendiri dalam proses pendidikan. Peran aktif keluarga dalam pendidikan memang tidak tergantikan oleh institusi manapun, termasuk sekolah. Keluarga merupakan basis dari pembentukan karakter (character building) anak didik, hal yang paling vital dalam pendidikan itu sendiri. Maka, ketika dalam 50 tahun terakhir terjadi degradasi moral yang parah di Amerika, yang ditandai dengan keluarnya peraturan 410. U.S 113 (1973) yang melegalkan kasus aborsi akibat tingginya praktik seks bebas, sejumlah orang tua khawatir dan homeschooling adalah salah satu upaya preventif yang dapat dilakukan.

Melaksanakan homeschooling bukan proyek mudah. Harus ada kesabaran, ketelatenan, kreativitas, tanggungjawab, kemauan, dan pengetahuan yang cukup untuk ditransfer kepada putra-putrinya yang sekaligus menjadi muridnya dalam homeschooling. Dalam keluarga homeschooler, setiap anggota saling berinteraksi dengan kesadaran betul akan posisi masing-masing. Orang tua menjadi pendidik, dan putra-putri menjadi murid selama jam pelajaran diterapkan. Yang menjadi pengajar biasanya adalah ibu, karena seorang ayah bekerja di luar rumah sehingga tidak memungkinkan untuk intensif mendampingi murid-murid dalam homeschooling. Ibu berperan ganda, orang tua sekaligus guru, yang mencurahkan pengetahuan dan kasih sayang sekaligus.

Tak ada kurikulum yang seragam dalam homeschooling, seperti halnya tidak ada dua keluarga yang persis sama satu sama lain. Satu kurikulum bisa cocok terhadap satu keluarga, tapi belum tentu untuk keluarga yang lain. Oleh karena itu para homeschooler bebas membuat kebijakan seputar kurikulum apakah yang akan diterapkan. Orientasinya pun bisa berbeda- beda, ada keluarga yang lebih menitikberatkan kepada pengajaran agama, ada pula yang begitu giat dalam bidang kesenian, tergantung latar belakang sosial dan insight keluarga yang bersangkutan.

Harapannya – dengan homeschooling – potensi, minat, bakat dan kemampuan masing-masing murid lebih mudah dideteksi oleh gurunya. Berbeda dengan institusi sekolah formal yang tidak memakai pendekatan khusus terhadap setiap anak, dalam homeschooling masing-masing anak diperlakukan secara personal sesuai karakter dan kecenderungannnya. Hal ini tidak aneh karena sang guru mendidik murid secara penuh 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan mendampingi mereka sejak bangun tidur hingga tidur lagi. Anak-anak diajari bagaimana mengatur waktu antara bermain, belajar, melakukan tugas rumah tangga, yang dianggap merupakan strategi hebat untuk melecutkan rasa tanggungjawab.

Salah satu lembaga yang menyelenggarakan program pendidikan homeschooling yang sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam penyelenggaraan pendidikan yang bekualitas adalah Cendekia Homeschooling. Lembaga homeschooling yang berada di Yogyakarta ini diharapkan bisa memberikan solusi yang nyata dan pasti kepada para orang tua yang ingin memberikan pendidikan kepada putra-putrinya melaui homeschooling.

Memasyarakatkan Home Schooling melalui Festival

Cendekia – Bagi keluarga yang serius menyempatkan diri melaksanakan homeschooling atau sekolah rumah bagi putra-putrinya, konsep pendidikan ini ternyata menawarkan beberapa manfaat positif bukan saja di bidang akademis, melainkan juga sosial, emosional, dan spiritual.

Hal tersebut diutarakan oleh Prof Dr Conny R Semiawan saat digelarnya Festival Homeschooling Indonesia II di Serpong, belum lama ini, yang digelar oleh para orang tua pelaku homeschooling tersebut.

“Sebagai salah satu pendidikan alternatif, homeschooling ternyata banyak memberikan manfaat dan semakin mendapatkan apresiasi di mata para orangtua karena para siswa homeschooling dapat menyaingi prestasi siswa di sekolah umum negeri atau swasta,” ujar Conny.

Untuk itulah, menurut salah seorang panitia, Shasa M Syah, melalui festival ini konsep pendidikan sekolah rumah perlu terus dimasyarakatkan dengan seminar, pameran bakat, prestasi, serta karya-karya para siswa homeschooling. Selain itu, kata Shasha, kegiatan ini sekaligus juga menjadi ajang temu dan berbagi dari sejumlah penggiat sekolah rumah.

“Nantinya, output festival ini juga akan ditindaklanjuti oleh pemerintah yang kini mulai mengakui keberadaan konsep pendidikan sekolah rumah,” kata Shasha.

Salah satu lembaga yang menyelenggarakan program pendidikan homeschooling yang sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam penyelenggaraan pendidikan yang bekualitas adalah Cendekia Homeschooling. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan program homeschooling maka kehadiran Cendekia homeschooling diharapkan bisa memberikan solusi yang nyata dan pasti kepada para orang tua yang ingin memberikan pendidikan kepada putra-putrinya melaui homeschooling.

Diambil dari berbagai sumber.

Home Schooling, Efektifkah?

Cendekia - Kegiatan belajar yang efektif dengan penyerapan informasi dan pengetahuan yang lebih maksimal . Itulah beberapa alasan orangtua memilih home schooling untuk pendidikan buah hatinya. Benarkah alasan tersebut? Tidak semua orangtua sepakat untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah umum.

Banyak alasan, salah satunya adalah kurang bermutunya pendidikan di sekolah-sekolah umum, sehingga terlalu banyak murid yang ditangani guru dalam satu ruang kelas. Ujungnya, penyerapan pelajaran pun tak maksimal.

Pendapat itu memang tidak berlebihan, karena memang di sekolah umum, satu orang guru bisa mengajar 20 bahkan sampai 30 anak dalam satu ruang kelas. Sedangkan diyakini, bahwa kemampuan masing-masing anak dalam menangkap mata pelajaran yang diberikan berbeda-beda.

Home schoolingpun lantas dilirik sebagai alternatifnya. Tidak seperti di sekolah umum, home schooling (sekolah di rumah) ini memiliki konsep yang biasanya satu guru akan menghadapi satu atau dua murid saja. Selain tentu saja lebih bisa ditertibkan, dengan home schooling, anak bisa lebih berkonsentrasi dalam menangkap pelajaran. Mutu mata pelajaran yang diberikan, juga bisa dipilih, sesuai dengan apa yang dibutuhkan anak saat itu.

Walaupun bisa menjaga kualitas pendidikan atau pengajaran kepada anak-anak yang belajar di rumah, bukan tidak berarti pendidikan jenis ini tidak mengalami kekurangan. Salah satu kekurangan yang paling menonjol dari home schooling adalah anak tidak bisa bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.

Kasus seperti inilah yang kemudian menjadi perdebatan hangat di kalangan pengajar serta psikolog anak. Sebab, pendidikan yang berkualitas tidak akan bermanfaat jika anak tidak bisa bersosialisasi dengan teman-teman seusianya.

Untuk mengatasi hal itu, biasanya anak-anak home schooling melakukan aktivitas luar ruang, seperti olahraga, program kepanduan, bakti sosial, atau bahkan kerja sambilan, jika usia mereka sudah cukup remaja.

Praktisi home schooling biasanya mengandalkan dukungan kelompok untuk mendukung dan mengadakan kontak personal dengan keluarga-keluarga yang berpikiran sama tentang home schooling ini. Larry Shyers dari Universitas Florida menulis disertasi doktoral yang mempertanyakan perkembangan sosial anak-anak yang berada di home schooling.

Dalam penelitiannya, anak-anak umur 8-10 tahun direkam dengan video saat bermain. Perilaku mereka diobservasi konselor-konselor terlatih yang tidak dikonfirmasi mana anak-anak yang bersekolah biasa dan mana yang di home schooling. Hasilnya ternyata sangat mengejutkan. Penelitian tersebut menyatakan tidak ada perbedaan besar antara kedua kelompok tersebut tentang konsep diri,walaupun anak tidak bersekolah di sekolah umum.

Tapi yang jelas, rekaman tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang belajar di rumah atau melakukan home schooling dengan orangtuanya secara konsisten tidak banyak bermasalah dengan bakat, kemampuan, dan cara bersosialisasi.

Susan Nelson, seorang pengembang kurikulum dan konsultan home schooling dari Amerika, menyatakan bahwa orangtua akan merasakan tugas-tugas mereka lebih sederhana jika mereka menentukan tujuan utama mengapa mereka menjadi pendidik-pendidik di rumah, termasuk untuk memfasilitasi anak dengan pengalaman-pengalaman belajar yang menarik, atau untuk mempersiapkan anak untuk memasuki sekolah formal.

Seperti pendidikan formal lainnya, home schooling juga bisa mengajarkan berbagai jenis mata pelajaran pada anak-anak, misalnya pada pagi hari anak dapat berlatih bahasa Inggris, bermain piano, dan menulis. Tiap sore anak bisa diajarkan membaca dengan cara pergi ke perpustakaan atau bisa pula melakukan jelajah hutan atau mengamati alam.

“Tidak ada yang salah dari pendidikan di rumah atau home schooling pada anak-anak jika dilakukan dengan benar ?” kata psikolog anak alumni Universitas Indonesia (UI), Dr Wiryawan.

Jika di Indonesia orang tua masih sangat takut kalau anak-anaknya tidak mendapatkan ijazah resmi, sejumlah universitas seperti Harvard dan Yale mengizinkan anak-anak home schooling untuk kuliah dan belajar di kampus terkenal tersebut. Bahkan dilaporkan, bahwa siswa-siswa home schooling memenangkan persaingan pendaftaran ke perguruan tinggi favorit.

Tanpa transkrip akademik dari SMU formal, pendaftar dapat mengumpulkan sampel atau portofolio kerja mereka, surat rekomendasi dari orangtua, atau juga guru yang membantu. Tercatat, 1.657 keluarga home schooling menyatakan bahwa siswa home schooling ingin melanjutkan ke perguruan tinggi: 69 persen responden memilih untuk ambil pendidikan lanjutan sekunder yang formal. Bahkan dari datadata yang ada, siswa home schooling yang dites selalu di atas rata-rata.

Sekarang telah hadir sebuah lembaga home schooling yang sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam penyelenggaraan pendidikan yang bekualitas adalah Cendekia Homeschooling. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan program home schooling maka kehadiran Cendekia homeschooling diharapkan bisa memberikan solusi yang nyata dan pasti kepada para orang tua yang ingin memberikan pendidikan kepada putra-putrinya melaui home schooling.

Diambil dari berbagai sumber.

Kategori
Pengunjung