Panel Staff

Selamat Datang

Selamat datang di Cendekia Homeschooling

Alamat Kantor Pusat: GREEN APRILLIA ESTATE GA II KAV 01,
AMBARKETAWANG, GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA.

Menerima Pendaftaran Siswa Baru sampai dengan bulan DESEMBER 2013 (dapatkan Discount 10 % bagi yang mendaftar pada bulan ini):

SD kelas 4, 5, dan 6.

SMP kelas 1, 2, dan 3.

SMA kelas 1, 2, dan 3 jurusan IPA dan IPS.

Informasi dan Pendaftaran, hubungi:

0274 4530058

Website resmi: www.cendekiahomeschooling.com

Mau sekolah di rumah (homeschooling)? Ya di Cendekia Homeschooling (CHS) saja. Jangan salah pilih. Kenapa harus di CHS? Ya, alasannya: Biaya sangat terjangkau, pelayanan memuaskan, kurikulum sesuai dengan KTSP, dan ditangani oleh tenaga pendidik yang kompeten, serta memiliki pengalaman di bidangnya. Sudah memiliki Legalitas resmi dari Departemen Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman.

KENAPA TIDAK HOMESCHOOLING SAJA…..?

KENAPA TIDAK HOMESCHOOLING SAJA…..?

Banyak orang tua yang menghendaki anaknya bisa mengenyam pendidikan sekolah hingga Sarjana, Pasca Sarjana bahkan lebih tinggi lagi sampai meraih gelar doktor. Orang tua sangat berharap juga anaknya punya cita-cita setinggi langit.  Namun di tengah perjalanan mereka mengenyam pendidikan, ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Banyak di lingkungan kita, anak- anak yang tidak mau sekolah karena berbagai macam alasan, seperti sakit hati sehingga dendam dengan temannya, takut dengan temannya karena merasa terancam, mungkin juga tidak suka atau takut dengan gurunya, tidak suka dengan materi pelajaran yang dibarikan, atau alasan-alasan lain seperti menyangkut kesehatan atau alasan fisik, dll. Kerap kali hal seperti itu tidak terbayangkan sebelumnya oleh orang tua. Mengapa ? Karena orang tua yakin bahwa anak–anak mereka akan “baik-baik” saja dalam menuntut ilmu dan tidak akan menemukan masalah  dalam belajar.

“Ketidakpuasan” si anak tersebut kadang membuat anak malas dan enggan bersekolah yang akhirnya mengurung di kamar, tidak jelas akan melakukan aktifitas apa (tidak memiliki orientasi). Atas kejadian ini tentu saja orang tua menjadi resah, gelisah dan prihatin atas kondisi si anak meski mungkin sudah diupayakan pendekatan dengan si anak ataupun pihak sekolah. Terus bagaimana solusinya…?  Bagaimanapun kondisi si anak, mereka harus tetap sekolah mendapat materi pelajaran yang sesuai dengan jenjangnya.

Peran dan komitmen orang tua sangat dibutuhkan. Mereka kemudian memilih alternatif lain dalam hal belajar yaitu Homeschooling. Homeschooling menjadi tempat harapan orang tua untuk meningkatkan mutu pendidikan anak-anak, mengembangkan nilai-nilai iman/agama dan moral serta mendapatkan suasana belajar yang menyenangkan (disesuaikan dengan keinginan anak).

Selain pemilihan materi dan standar pendidikan sekolah rumah, homeschooling bekerjasama dengan Diknas terkait tetap melaksanakan ujian nasional bagi siswa-siswanya untuk mendapatkan ijasah, dengan tujuan agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Dalam perkembangannya, Homeschooling sudah diakui bahkan ijasahnya dapat digunakan untuk mendaftar ke sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Proses belajar mengajar ini juga mudah dan menyenangkan karena setiap bulan sudah disediakan jadwal sesuai dengan materinya di mana siswa dapat mengatur waktunya sendiri. Dalam kegiatan belajar, anak dibantu tutor yang berpengalaman dalam bidangnya.

Semoga siswa homeschooling mampu bersaing dengan siswa reguler dan mampu mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang kelak menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif dan mandiri.

Jadi…..kenapa tidak Homeschooling saja….?

Kemajuan Homeschooling pada Masa Kini

ORANGTUA kerap menginginkan anak-anak mereka mendapat pendidikan bermutu yang di dalamnya terdapat nilai iman dan moral. Di samping itu, mereka juga berharap suasana belajar yang diterima si anak menyenangkan.

Namun, keinginan tersebut jarang sekali ditemukan di sekolah umum (formal). Siswa selalu diorientasikan dengan nilai rapor di sekolah umum. Karena dorongan harus mengejar nilai rapor itulah, tidak sedikit siswa yang akhirnya mengambil jalan pintas, menyontek atau membeli ijazah palsu. Selain itu, identitas seorang siswa kerap distigmatisasi dan ditentukan teman-temannya yang lebih pintar. Kondisi ini membuat suasana belajar tidak menyenangkan.

Sekolah pun kurang mengedepankan keterampilan siswa. Perhatian secara personal pada anak, kurang diperhatikan. Belum lagi kasus tawuran pelajar, seks bebas, dan narkoba di kalangan pelajar, menjadi faktor yang membangun kesadaran orangtua untuk mencari pendidikan yang relatif “aman” bagi anak-anak mereka.

Artinya, kegagalan sekolah formal dalam menghasilkan mutu pendidikan yang lebih baik, menjadi pemicu bagi keluarga memberikan pendidikan di rumah lewat homeschooling, sebuah pola pembelajaran yang dianggap bisa memberikan harapan pada kreativitas dan perkembangan mutu pendidikan anak. Pada pola homeschooling, keluarga bertanggung jawab atas pendidikan anak dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikan.

Lantas, apa yang menjadi kelebihan dalam pola pendidikan homeschooling ini? melihat pola yang banyak diterapkan selama ini, homeschooling lebih banyak memberikan keleluasaan bagi anak untuk menikmati proses belajar. Mereka tidak perlu tertekan dengan beban materi ajar yang ditargetkan kurikulum. Di samping itu, siswa mendapat pendidikan moral atau keagamaan, lingkungan sosial, dan suasana belajar yang lebih baik.

Anak juga bisa mendapat keterampilan khusus dan bisa mengembangkan sesuai bakat yang dimiliki. Kendati begitu, bukan berarti homeschooling tidak memiliki kelemahan. Pasalnya, pola belajar di rumah tidak bisa menciptakan suasana kompetitif. Anak tidak bisa membandingkan sampai di mana kemampuannya dibandingkan anak-anak lain seusianya. Selain itu, siswa homeschooling dinilai keterampilan bersosialisasinya relatif rendah.

Karena itu, risiko yang biasa diterima ialah kurangnya kemampuan bekerja dalam tim (team work), organisasi, dan kepemimpinan. Lalu, mengapa harus homeschooling? Berdasarkan penelitian Dr Brian Ray, salah satu peneliti ternama mengenai homeschooling, menyebutkan pola pendidikan di rumah menjadi tren yang tumbuh pesat di sejumlah negara di dunia. Meningkatnya jumlah siswa homeschooling disebabkan kegagalan sistem pendidikan di AS, yang dianggap tidak bisa memenuhi kebutuhan bisnis dan industri.

Artinya, para siswa lulusan sekolah formal di AS tidak siap untuk masuk dalam dunia kerja. Di Indonesia, belum ada catatan statistik jumlah praktisi homeschooling. Tetapi menurut data Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena) yang dipimpin Seto Mulyadi, sedikitnya ada lebih dari 1.400 siswa homeschooling di Indonesia. Saat ini sekolah formal masih dianggap sebagai sistem pendidikan yang paling cocok bagi mayoritas anak-anak di Indonesia.

Namun, tidak semua anak berkesempatan bisa belajar di sekolah formal dengan berbagai alasan. Bisa jadi karena kesibukan si anak sebagai selebritas misalnya, atau orangtua yang selalu berpindah tempat kerja. Malah tidak sedikit orangtua yang beranggapan bahwa sekolah formal khususnya swasta yang menerapkan biaya sangat tinggi. Intinya, ekonomi menjadi pertimbangan orangtua.

Kondisi ini yang membuat sebagian orangtua melirik homeschooling sebagai sebuah solusi. Menurut psikolog anak, Seto Mulyadi, ada beberapa masalah yang bisa membuat homeschooling sebagai solusi, di antaranya masalah psikologis, ekonomi, hingga geografis. Dari sisi psikologis, ada anak yang tidak suka dengan pola belajar yang kaku. Terlebih jika si anak memiliki kesibukan tersendiri yang dianggap sebagai awal karier, menjadi artis misalnya.

“Homeschooling juga sering dijadikan terapi bagi anak korban bullying (kenakalan) teman-temannya. Ada juga beberapa kasus seperti bermasalah dengan guru. Mereka bisa masuk homeschooling. Setelah merasa terobati, mereka kembali lagi ke sekolah formal,” jelas Seto. Sementara dari sisi geografis, tidak sedikit orangtua karena alasan pekerjaan harus sering berpindah tugas.

Kondisi ini terpaksa membuat mereka memilih homeschooling untuk pendidikan anak-anaknya. Hal ini misalnya terjadi pada diplomat yang selalu berpindah Negara. Pakar pendidikan Arief Rachman mengatakan, homeschooling cocok bagi anak yang tinggal jauh dari sekolah. Orangtua bisa memberikan pelajaran yang nantinya akan diikutkan ujian dengan sekolah formal yang ada.

Menurut Arief, sistem homeschooling di Indonesia berbeda dengan apa ada yang ada di negara lain. “Saya tidak mau menyebut homeschooling di Indonesia asli atau tidak, namun ini adalah homeschooling ala Indonesia,” kata Arief.

Menurutnya, homeschooling cocok bagi anak yang kurang kemampuan numerik (angka-angka) dan verbal (bahasa), namun mempunyai kemampuan lain seperti bermusik dan menyanyi.

Mereka tidak perlu sekolah formal, cukup memaksimalkan kemampuan potensi mereka. Anak-anak itu juga tidak perlu ijazah sesuai dengan sekolah formal.

Homeschooling Menjawab Tantangan Global

Cendekia Homeschooling Yogya – Homeschooling merupakan salah satu solusi bagi orang tua yang mungkin ingin mengontrol sisi belajar sang anak setiap waktu ataupun mereka ingin waktu belajar si anak lebih fleksibel dan tepat. Homeschooling telah banyak dikembangkan di beberapa negara. Dalam pengembangannya di Indonesia memang tidak bisa lepas dari Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), karena dasar hukum Homeschooling adalah UU no 20 tahun 2003 (Sisdiknas) Pasal 1 ayat (1). Serta pasal 27 Sisdiknas tentang pendidikan informal.

Di Indonesia memang belum banyak peserta yang ikut homeschooling, baru terdapat sekitar 800-an peserta homeschooling, 600 di antaranya mengikuti homeschooling majemuk dan komunitas, 200 lainnya mengikuti homeschooling tunggal. Ada 3 jenis homeschooling yaitu:

  1. Homeschooling tunggal, dimana kegiatan pendidikan dilakukan oleh orang tua dalam 1 keluarga tanpa join dengan keluarga yang lainnya.
  2. Homeschooling majemuk, dilaksanakan 2 keluarga atau lebih untuk kegiatan tertentu, sedang kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orang tua di rumah masih-masing.
  3. Homeschooling komunitas, terdiri gabungan dari homeschooling majemuk. Dalam jenis ketiga ini beberapa perwakilan keluarga berembuk untuk menyusun dan menentukan silabus, RPP, bahan ajar, sarana-sarana serta jadwal pembelajaran.

Apakah homeschooling diakui Pemerintah?

Ya, Pemerintah mengakui terhadap keberadaan homeschooling. Namun pihak yang melaksanakan homeschooling-lah yang harus proaktif melapor ke Diknas setempat agar nantinya dicatat, diakui, dan bisa mendapat ijazah dengan mengikuti ujian kesetaraan. Untuk ijazah SD adalah paket A, SMP adalah paket B, dan SMA adalah paket C. sedangkan sistem akreditasinya menggunakan ujian persamaan yaitu UN kesetaraan.

Siswa homeschooling juga dapat “BOS” (Biaya Operasional Sekolah), namun namanya bukan BOS tapi BOP (Biaya Operasional Pendidikan). Untuk paket A sebesar Rp 230.000,00 plus modul senilai Rp 74.000,00 per siswa. Paket B dapat Rp 260.000,00 plus Rp 80.000,00 per siswa, sedang paket C (setara SMA) mendapat Rp 285.000,00 ditambah Rp 84.000,00.

Apakah manfaat homeschooling dibanding sekolah formal? Ada beberapa manfaat, diantaranya:

  1. Anak-anak menjadi subyek bukan obyek.
  2. Materi pelajarannya sangat luas, tidak hanya seperti kurikulum yang ditetapkan Pemerintah.
  3. Peran orang tua menjadi sangat penting dan harus dominan.
  4. Fleksibel dalam penyelenggaraan pembelajaran.
  5. Penerapan contextual teaching and learning adalah model yang ampuh untuk homeschooling, dan sebagainya.

Anda sudah tahu kan, tentang keunggulan homeschooling? Tunggu apa lagi, silakan daftarkan putra-putri Anda ke lembaga homeschooling terpercaya.

Salah satu lembaga yang menyelenggarakan program pendidikan homeschooling yang sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam penyelenggaraan pendidikan yang bekualitas adalah Cendekia Homeschooling. Lembaga homeschooling di Yogyakarta ini diharapkan bisa memberikan solusi yang nyata dan pasti kepada para orang tua yang ingin memberikan pendidikan kepada putra-putrinya melalui homeschooling

Cendekia Homeschooling Menyelenggarakan Lomba Pidato Bahasa Jawa

Untuk melestarikan salah satu budaya tradisional, Cendekia Homeschooling menyelenggarakan Lomba Pidato ber-Bahasa Jawa untuk tingkat SD.

Adapun hadiah yang diperebutkan sebagai berikut:

  • Juara I mendapatkan Tropi, Sertifikat dan Beasiswa Rp 500.000,-
  • Juara II mendapatkan Tropi, Sertifikat, dan Beasiswa Rp 400.000,-
  • Juara III mendapatkan Tropi, Sertifikat, dan Beasiswa Rp 300.000,-

Berikut ini sebagian foto-foto lombanya:

Aksi salah seorang peserta lomba dengan nomor urut 1:

Peserta yang tampil menggunakan busana adat Jawa:

Tetap semangat dan tampil pede:

Wow, masih SD tapi sudah pintar membawakan pidato berbahasa Jawa:

Peserta lomba paling imut:

Inilah seluruh peserta lomba pidato ber-Bahasa Jawa:

Selain acara lomba pidato juga ada selingan lawak, yang dibawakan oleh Om Anjar Tiada Tara:

Inilah para Juara Lomba Pidato ber-Bahasa Jawa:

Homeschooling Menjadikan Anak Egois dan Individualis? = SALAH BESAR!

Ini satu tuduhan yang sering ditimpakan kepada anak-anak homeschooling yang tak bersalah itu.

Aneh ya, padahal orang-orang yang bilang begitu pun sebenarnya tidak pernah bertemu dengan anak homeschooling sebelumnya.

Berikut ini pengalaman nyata orang tua yang telah menyekolahkan putrinya di homeschooling.

“Semasa putriku Kanae ikut di homeschooling, pernah juga aku mendapat nasihat begitu. Padahal dia bukan main manisnya. Sama adik selalu mengalah. Kalau adiknya aku marahi, dia yang tidak terima dan membela. Egois? Individualistis? Tidak sama sekali. Iri dan dengki dengan adiknya? Tidak pernah terjadi.

Aku rasa itu karena dia mencontoh orang-orang dewasa yang berinteraksi dengannya. Kami, orang dewasa, baik dan sayang terhadapnya, maka dia bersikap baik dan sayang juga terhadap adiknya.

Setelah disekolahkan di sekolah umum (konvensional), putriku berubah drastis. Pulang sekolah, yang pertama kali dilakukan: kalau tidak merengek-rengek tak jelas, pasti membuat adik menangis. Lalu dia menangis karena kumarahi. Huwaa.. nangis semua. Cape’ deeh…

Sementara orang yang bertanggung jawab menyekolahkan malah tidak pernah harus menghadapi masalah ini dan dia bisa berbangga-bangga di kantor karena anaknya ranking.

Kenapa begitu? Bukankah di sekolah banyak teman, bisa belajar berbagi dan mengasihi yang lain?

Kenyataannya, di sekolah yang terjadi bukan sosialisasi indah seperti itu. Kanae bercerita, celananya dipeloroti teman yang bandel, atau tadi di sekolah disiram teh oleh teman, tasnya dibuang ke luar kelas, dan sebagainya. Yang aku takutkan, kalau dia jadi menganggap dirinya wajar diperlakukan tidak hormat oleh orang lain.

Gurunya tidak berbuat apa-apa? Yah… yang namanya guru hanya bisa bereaksi setelah kejahatan terjadi. Bahkan dia sering tidak tahu, kan sibuk juga mengurusi hal-hal lain. Anak-anak nakal itu pun tidak pernah kapok meskipun ketahuan. Mereka sekedar bereaksi melampiaskan stres, mereka butuh berada bersama orangtua, tetapi malah dikirim ke sekolah.

Aku tidak menyalahkan putriku itu kalau dia jadi ketakutan dan diam saja di sekolah, membuat gurunya sangat khawatir. Papanya pernah marah-marah kepadaku soal keluhan gurunya itu. Kata dia, ini gara-gara Kanae tidak disekolahkan lebih awal. Ini pasti gara-gara Kanae pernah homeschooling. Dia bilang, aku ikut homeschooling sekadar cari sensasi.

Aku sakit hati dong. Bukannya gurunya ya yang tidak becus menjaga keselamatan anakku? Memangnya aku punya kendali apa di sekolah? Memangnya aku yang mempengaruhi dia supaya jadi penakut? Aku kan di rumah. Buktinya kita kan tahu sendiri, dia supel dan peramah kalau sekolah sedang libur.

Untung dong pernah homeschooling. Bukankah kalau dia disekolahkan lebih awal, pasti aku jadi tidak tahu kalau dia sebenarnya manis dan baik hati? Pasti aku tidak akan pernah tahu, yang terjadi saat ini reaksi normal akibat lingkungan sosialisasi yang buruk.

Wah, kalau ingat-ingat begini, aku jadi kesal pada orang-orang yang menuduh anak homeschooling itu egois. Mungkin mereka senang ya sekarang, putriku punya masalah yang sama dengan anak-anak mereka.

Tetapi putriku cerdas dan anak-anak mereka tidak. Oh, betapa naifnya… melimpahkan seluruh tanggung jawab pendidikan pada sekolah.”

Alumni Homeschooling yang menjadi Tokoh Dunia

Homeschooling itu tak memiliki bentuk tunggal. Latar belakang orangtua beragam, keyakinan dan nilai-nilainya beragam, alasan memilih homeschooling beragam, demikian pun anak-anak homeschooling beragam.

Ada yang scholar, ada yang seniman. Ada yang scientist, ada yang artis.

Yang pasti, homeschooling memberikan kesempatan untuk tumbuhnya setiap potensi secara maksimal. Sebab, yang dipelajari dan dilakukan anak tak diseragamkan; tetapi sesuai model homeschooling yang dipilih, menyesuaikan dengan potensi yang dimiliki anak dan kondisi keluarga.

Berikut ini beberapa tokoh masa kini yang tumbuh dalam pendidikan homeschooling dengan beragam warna.

1. Julian Assange, pendiri situs Wikileaks

Julian Assange adalah tokoh yang sedang mendapat sorotan di dunia karena telah membocorkan dokumen-dokumen rahasia pemerintah dan militer Amerika Serikat melalui situs Wikileaks yang didirikannya. Dia adalah sosok seorang yang memberontak terhadap sistem politik korup yang sedang menguasai dunia saat ini. Akibatnya, dia dikejar oleh pemerintah Amerika Serikat yang ingin menangkapnya.

Julian Assange menjalani homeschooling selama beberapa tahun sambil melakukan perjalanan bersama orangtuanya yang memiliki perusahaan teater keliling. Saat dewasa, dia terus menjalani hidup berpindah-pindah; dan itu sesuai dengan kondisinya saat ini yang menjadi target pembunuhan dan pemburuan karena apa yang dilakukannya.

2. Condoleezza Rice, menteri luar negeri AS

Condoleezza Rice adalah wanita berkulit hitam pertama yang menjadi menteri luar negeri Amerika Serikat. Dia menjadi menteri luar negeri pada saat pemerintahan George W. Bush. Majalah Forbes pernah menobatkannya sebagai “The Most Powerful Woman in the World”. Saat ini dia menjadi pengajar di Stanford Graduate School of Business.

Angelina Rice, ibu dari Condoleezza Rice, berhenti dari pekerjaannya sebagai guru musik di SMA untuk mendidik homeschooling buat anak perempuannya itu.

3. Erik Demaine, profesor matematika

Erik Demaine adalah professor termuda yang pernah dimiliki The Massachusett Institute of Technology (MIT). Dia menjadi dosen pada usia 20 tahun. Dia adalah ahli matematika origami, yang menggunakan model origami untuk memahami konsep matematika dan menerapkannya dalam berbagai disipling seperti arsitektur, robotik, dan biologi molekular.

Demaine menjalani homeschooling sambil melakukan perjalanan keliling Amerika Serikat bersama ayahnya, seorang pandai emas (goldsmith) dan glassblower. Demaine mulai kuliah saat usia 12 tahun, menyelesaikan sarjana pada usia 14 tahun. Selain seorang jenius di bidang matematika dan komputasi, Demaine adalah seorang seniman yang karyanya dipajang di the Museum of Modern Art dan dijadikan sebagai koleksi permanen di museum itu.

Masih ada sosok-sosok homescholing lain yang terus bertumbuhan di berbagai penjuru dunia. Ada The Jonas Brothers (grup musik), Margaret Atwood (penulis), Francis Collins (saintis), Akiane Kramarik (pelukis), dan sebagainya.

Peran Homeschooling dalam Membangun Karakter Bangsa

Mengapa Harus Homeschooling?

Bangsa Indonesia telah menikmati kemerdekaan selama 66 tahun, namun sampai dengan saat ini masih banyak masyarakat yang mengalami korban penindasan dan penjajahan dari saudaranya sendiri yang mengakibatkan ketidakberdayaan baik itu secara intelektual maupun ekonomi, kemiskinan dan kebodohan menjadi fenomena biasa di negeri ini, korupsi kolusi dan nepotisme menjadi budaya yang telah mengakar dan melembaga di masyarakat.

Pelembagaan praktek-praktek kecurangan ini telah menyebabkan kekalnya kegiatan ini di masyarakat, sehingga sangat sulit untuk diberantas, termasuk kecurangan yang sekarang marak terjadi pada lembaga-lembaga pendidikan pada saat pelaksanaan Ujian Akhir Nasional. Sungguh mengecewakan mengingat seharusnya lembaga pendidikan berfungsi sebagai sebagai lembaga diseminasi nilai-nilai keunggulan bagi anak didiknya. Penegakkan hukum yang tidak berpihak pada masyarakat lemah menambah suramnya masa depan keadilan di negeri ini. Rendahnya sensitivitas sosial dan lingkungan, ditandai maraknya kegiatan pesta dan hura-hura kaum muda dan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan tanpa memperhatikan efek negatifnya, merupakan gejala dan fenomena yang ada di hadapan kita yang tentu saja tidak sesuai dengan cita-cita para pejuang dan pendiri bangsa ini.

Sangat nyata di mata kita, bahwa pendidikan sepertinya tidak memberikan efek positif terhadap perbaikan perilaku bangsa ini, west oriented pada dunia pendidikan membuat bangsa ini telah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang kaya akan khasanah dan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Pendidikan agama, pendidikan pancasila, bahkan P4 yang pada masa orde baru dipandang sebagai senjata ampuh tidak mampu membuat bangsa ini berbudi pekerti baik dan membawa bangsa ini kearah yang lebih baik terutama dalam pembentukan karakter.

Beberapa fenomena di atas dapat dijawab oleh rekonstruksi pendidikan dimulai dari pendidikan pra sekolah sampai pendidikan tinggi secara formal dan penguatan kapasitas pendidikan non formal dan informal di masyarakat. Dari banyak literature disebutkan bahwa perilaku masyarakat sangat ditentukan oleh tingkat pendidikannya, namun dibalik fenomena peristiwa yang diduga kuat merupakan rancangan dari aktor elit politik yang didukung dengan dana yang cukup, teori keterkaitan perilaku masyarakat dengan tingkat pendidikan menjadi tidak sepenuhnya berlaku. Yang bisa dijadikan instrument untuk menjelaskannya adalah peranan pendidikan dalam membangun karakter bangsa.

Saat ini orang mulai banyak melirik sekolah-sekolah alternatif terutama bagi anak-anak mereka dalam mengenyam pendidikan, salah satunya adalah Homeschooling. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa pendidikan saat ini sepertinya tidak mampu memberikan efek positif terhadap perbaikan perilaku bangsa, namun ternyata permasalahan tersebut tidak berhenti disitu saja, masih banyak permasalahan lain berkenaan dengan pelaksanaan pendidikan formal yang membuat orang tua merasa harus memberikan fasilitas pendidikan kepada anaknya melalui jalur homeschooling.

Saat ini anak-anak banyak yang terpaksa duduk di bangku sekolah formal dalam waktu tertentu hanya karena tuntutan kebutuhan, disamping itu kejenuhan juga banyak dialami oleh anak-anak ketika bersekolah karena tuntutan jam pelajaran yang cukup melimpah. UNESCO mensyaratkan 800 – 900 jam pelajaran per tahun untuk Sekolah Dasar, di Indonesia justru memberlakukan 1400 jam pelajaran per tahun, kondisi ini tentu saja membuat sekolah tidak lagi menyenangkan dan hanya menjadi sebuah siksaan saja.

Keberadaan homeschooling di negara-negara maju sudah mulai berkembang lama, bahkan pada tahun 2003, di Amerika ada sekitar 1,1 juta anak yang belajar di rumah, dan pada tahun 1999 sekitar 850 ribu anak yang bersekolah di rumah (data dari NHES (National Houshold Education Surveys Program) dikutip dari National Center for Education Statistics). NHES sendiri melakukan survey terhadap orang tua yang menyatakan 31% dari mereka khawatir terhadap lingkungan sekolah, 30%  menyatakan alasan paling utama adalah memberikan pelajaran agama dan moral, sedangkan 16% lainnya menyatakan ketidakpuasan terhadap sistem akademis di sekolah.

Tidak berbeda halnya dengan di Indonesia, alasan kenapa orang tua lebih memilih homeschooling adalah karena orang tua tidak puas pada pendidikan di sekolah. Kurikulum selalu berubah, yang berakibat pada buku pelajaran yang selalu berubah dan beban mata pelajaran yang cukup berat, dan lainnya adalah pergaulan di sekolah yang memberi dampak buruk pada pada perilaku anak-anak sehingga membuat para orang tua semakin gelisah.

Disamping karena ketidak percayaan terhadap lembaga pendidikan formal, para orang tua lebih melihat homeschooling memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pendidikan formal antara lain: Lebih memberikan kemandirian dan kreativitas individual bukan pembelajaran secara klasikal, Memberikan peluang untuk mencapai kompetensi individual semaksimal mungkin sehingga tidak selalu harus terbatasi untuk membandingkan dengan kemampuan tertinggi, rata-rata atau bahkan terendah, Terlindungi dari “tawuran”, kenakalan, NAPZA, pergaulan yang menyimpang, konsumerisme dan jajan makanan yang malnutrisi, Lebih bergaul dengan orang dewasa sebagai panutan, Lebih disiapkan untuk kehidupan nyata, Lebih didorong untuk melakukan kegiatan keagamaan, rekreasi/olahraga keluarga, Membantu anak lebih berkembang, memahami dirinya dan perannya dalam dunia nyata disertai kebebasan berpendapat, menolak atau menyepakati nilai-nlai tertentu tanpa harus merasa takut untuk mendapat celaan dari teman atau nilai kurang, Membelajarkan anak-anak dengan berbagai situasi, kondisi dan lingkungan sosial, Masih memberikan peluang berinteraksi dengan teman sebaya di luar jam belajarnya.

Dapatkah Karakter Bangsa Dibentuk Melaui Homeschooling?

Salah satu alasan orang tua lebih memilih homeschooling adalah orang tua mampu memberikan pelajaran agama dan moral lebih intensif dari pada di sekolah formal. Kondisi seperti memberikan peluang bekembangnya model pembelajaran dalam pembangunan karakter bangsa. Seperti diketahui bersama saat ini pendidikan agama di sekolah formal hanya 2 jam pelajaran dalam satu minggu, demikian pula pendidikan budi pekerti atau pendidikan pancasila yang saat ini semakin terbelakang oleh mata pelajaran lainnya dan bahkan dituntut untuk dihilangkan dari kurikulum. Sungguh suatu pemandangan yang berkebalikan dengan tujuan pendidikan nasional itu sendiri. Sekolah formal dan bahkan sekolah non formal ketika dihadapkan pada pertanyaan mengenai kapasitas mereka dalam membekali anak didik dengan pendidikan agama dan budi pekerti memiliki jawaban senada yaitu: “pendidikan agama dan budi pekerti adalah tanggung jawab orang tua”, sungguh sebuah jawaban yang menyakitkan kita sebagai orang yang bergelut dalam bidang pendidikan.

Fenomena terbalik juga banyak dijumpai di Indonesia, ketika negara-negara maju seperti Amerikan Serikat saat ini banyak mengembangkan model-model pembangunan karakter, di Indonesia malah sebaliknya, karakter bangsa yang sebenarnya banyak tertuang dalam Pancasila bahkan dituntut untuk dihilangkan dalam kurikulum dari tingkat SD sampai perguruan tinggi, bahkan saat ini sudah banyak perguruan tinggi yang tidak memasukkan pendidikan Pancasila dalam kurkulumnya. Yang menjadi pertanyaan adalah ada apa sebenarnya dengan Pancasila sehingga banyak pihak tidak menghendakinya, apakah murni karena Pancasila tidak memiliki signifikansi terhadap moral di Indonesia? Ataukah ada beberapa pihak eksternal maupun internal yang tidak menghendaki generasi muda Indonesia untuk mengenal Pancasila yang merupakan intisari dari nilai-nialai luhur bangsa Indonesia? Pertanyaan yang harus di jawab oleh kita sebagai warga negara Indonesia terkhusus mahasiswa dengan pandangan kritisnya.

Jika dilihat, apa bedanya antara karakter yang dikembangkan di luar negeri dengan Pancasila yang sudah ada di Indonesia? Jawabannya tidak ada bedanya, karena substansi dari karakter dalam pembangunan karakter sama dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Jika dirasa Pancasila tidak mampu berkontribusi positif terhadap perubahan moral di Indonesia sebenarnya kesalahannya tidaklah terletak pada Pancasila itu sendiri, tetapi terletak pada cara dan implementasinya di lapangan. Character building di negara-negara maju diterapkan dengan metode yang menyenangkan dan aplikatif, sedangkan di Indonesia penerapan pembelajaran Pancasila lebih pada pengetahuan daripada implementasi, murid-murid selalu dihadapkan pada pertanyaan dan hapalan kulit luar dari Pancasila, sedangkan substansinya hilang begitu saja seiring dengan bertumpuknya pengetahuan kognitif mata pelajaran yang ada di sekolah.

Peluang homeschooling untuk lebih aplikatif dalam pembelajaran Pancasila sebagai upaya pembangunan karakter bangsa bisa lebih terbuka dan lebih intensif demikian pula dengan pembelajaran agama yang juga melandasi seseorang dalam berperilaku disamping pendidikan karakter itu sendiri. Namun hal ini tidak lepas dari orangtua yang memfasilitasi pendidikan anaknya melalui homeschooling, karena sebenarnya ada dua motif dari pelaksanaan homeschooling itu sendiri yaitu: idealisme dan kapitalisme. Idealisme lebih kepada ketidak percayaan orang tua terhadap lembaga pendidikan formal, sedangkan kapitalisme lebih kepada ketidak sediaan waktu seseorang untuk menempuh pendidikan formal karena kepentingan finansial sehingga harus melalui proses pendidikannya melalui homeschooling, waktunya banyak dihabiskan untuk mencari uang dan tidak mau lepas dari sumber keuangan tersebut sehingga mengorbankan waktu sekolah.  Dua latar belakang ini tentu saja memiliki orientasi yang berbeda terhadap homeschooling itu sendiri, terlebih untuk urusan pembentukan karakter, moral dan pendidikan agama.

Fleksibilitas yang terdapat dalam homeschooling memungkinkan mata pelajaran agama dan budi pekerti bisa memiliki porsi yang seimbang dengan mata pelajaran lainnya, bahkan pembelajaran tematik bermuatan agama dan budipekerti sangat memungkinkan untuk diterapkan, dapat dapat dilaksanakan dengan metode yang lebih menyenangkan jika dibandingkan dengan pembelajaran di sekolah formal yang selalu dihantui dengan nilai dan ujian-ujian. Kesimpulannya, character building sangat memungkinkan untuk dikembangkan melalui homeschooling karena karakteristik dan metode yang digunakan dalam proses pembelajarannya lebih komunikatif, serta tanggung jawab dari orang yang melaksanakan homeschooling itu sendiri, terutama jika orang tua terjun langsung dalam membelajarkan anak-anaknya.

Homeschooling vs Sekolah Umum

Model pendidikan yang paling terkenal dan diakui masyarakat adalah sistem sekolah atau pendidikan formal baik yang diselenggarakan pemerintah maupun swasta. Sekolah umum seringkali dipandang sebagian orang lebih valid dan disukai.

Namun bagi sebagian orang, sistem sekolah umum merupakan sekolah yang tidak memuaskan bagi perkembangan diri anak. Sekolah umum menjadi kambing hitam atas output yang dikeluarkannya. Hal ini terlihat dari output pendidikan formal banyak menjadi koruptor, pelaku mafia peradilan, politisi pembohong, dan penipu kelas kakap. Alasan kekecewaan itulah memicu keluarga-keluarga memilih sekolah rumah alias homeschooling sebagai pendidikan alternatif.


Pada hakekatnya, baik homeschooling maupun sekolah umum, sama-sama sebagai sebuah sarana untuk menghantarkan anak-anak mencapai tujuan pendidikan seperti yang diharapkan. Namun homeschooling dan sekolah memiliki perbedaan.

Pada sistem sekolah, tanggung jawab pendidikan anak didelegasikan orang tua kepada guru dan pengelola sekolah. Pada homeschooling, tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya berada di tangan orang tua.

Sistem di sekolah terstandardisasi untuk memenuhi kebutuhan anak secara umum, sementara sistem pada homeschooling disesuaikan dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga.
Pada sekolah, jadwal belajar telah ditentukan dan seragam untuk seluruh siswa. Pada homeschooling jadwal belajar fleksibel, tergantung pada kesepakatan antara anak dan orang tua.

Pengelolaan di sekolah terpusat, seperti pengaturan dan penentuan kurikulum dan materi ajar. Pengelolaan pada homeschooling terdesentralisasi pada keinginan keluarga homeschooling. Kurikulum dan materi ajar dipilih dan ditentukan oleh orang tua.

4 Faktor Penting Pemicu dan Pendukung Homechooling

1. Kegagalan sekolah formal

Baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia, kegagalan sekolah formal dalam menghasilkan mutu pendidikan yang lebih baik menjadi pemicu bagi keluarga-keluarga di Indonesia maupun di mancanegara untuk menyelenggarakan homeschooling. Sekolah rumah ini dinilai dapat menghasilkan didikan bermutu.

2. Teori Inteligensi ganda

Salah satu teori pendidikan yang berpengaruh dalam perkembangan homeschooling adalah Teori Inteligensi Ganda (Multiple Intelligences) dalam buku Frames of Minds: The Theory of Multiple Intelligences (1983) yang digagas oleh Howard Gardner. Gardner menggagas teori inteligensi ganda. Pada awalnya, dia menemukan distingsi 7 jenis inteligensi (kecerdasan) manusia. Kemudian, pada tahun 1999, ia menambahkan 2 jenis inteligensi baru sehingga menjadi 9 jenis inteligensi manusia. Jenis-jenis inteligensi tersebut adalah:Inteligensi linguistik; Inteligensi matematis-logis; Inteligensi ruang-visual; Inteligensi kinestetik-badani; Inteligensi musikal; Inteligensi interpersonal; Inteligensi intrapersonal; Inteligensi ligkungan; dan Inteligensi eksistensial. Teori Gardner ini memicu para orang tua untuk mengembangkan potensi-potensi inteligensi yang dimiliki anak. Kerapkali sekolah formal tidak mampu mengembangkan inteligensi anak, sebab sistem sekolah formal sering kali malahan memasung inteligensi anak. (Buku acuan yang dapat digunakan mengenai teori inteligensi ganda ini dalam bahasa Indonesia ini, Teori Inteligensi Ganda, oleh Paul Suparno, Kanisius: 2003).

3. Sosok homeschooling terkenal

Banyaknya tokoh-tokoh penting dunia yang bisa berhasil dalam hidupnya tanpa menjalani sekolah formal juga memicu munculnya homeschooling. Sebut saja, Benyamin Franklin, Thomas Alfa Edison, KH. Agus Salim, Ki Hajar Dewantara dan tokoh-tokoh lainnya. Benyamin Franklin misalnya, ia berhasil menjadi seorang negarawan, ilmuwan, penemu, pemimpin sipil dan pelayan publik bukan karena belajar di sekolah formal. Franklin hanya menjalani dua tahun mengikuti sekolah karena orang tua tak mampu membayar biaya pendidikan. Selebihnya, ia belajar tentang hidup dan berbagai hal dari waktu ke waktu di rumah dan tempat lainnya yang bisa ia jadikan sebagai tempat belajar.

4. Tersedianya aneka sarana

Dewasa ini, perkembangan homeschooling ikut dipicu oleh fasilitas yang berkembang di dunia nyata. Fasilitas itu antara lain fasilitas pendidikan (perpustakaan, museum, lembaga penelitian), fasilitas umum (taman, stasiun, jalan raya), fasilitas sosial (taman, panti asuhan, rumah sakit), fasilitas bisnis (mall, pameran, restoran, pabrik, sawah, perkebunan), dan fasilitas teknologi dan informasi (internet dan audivisual).

Homeschooling Menjawab Tantangan Global

Cendekia Homeschooling Yogya – Homeschooling merupakan salah satu solusi bagi orang tua yang mungkin ingin mengontrol sisi belajar sang anak setiap waktu ataupun mereka ingin waktu belajar si anak lebih fleksibel dan tepat. Homeschooling telah banyak dikembangkan di beberapa negara. Dalam pengembangannya di Indonesia memang tidak bisa lepas dari Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), karena dasar hukum Homeschooling adalah UU no 20 tahun 2003 (Sisdiknas) Pasal 1 ayat (1). Serta pasal 27 Sisdiknas tentang pendidikan informal.

Di Indonesia memang belum banyak peserta yang ikut homeschooling, baru  terdapat sekitar 800-an peserta homeschooling, 600 di antaranya mengikuti homeschooling majemuk dan komunitas, 200 lainnya mengikuti homeschooling tunggal. Ada 3 jenis homeschooling yaitu:

  1. Homeschooling tunggal, dimana kegiatan pendidikan dilakukan oleh orang tua dalam 1 keluarga tanpa join dengan keluarga yang lainnya.
  2. Homeschooling majemuk, dilaksanakan 2 keluarga atau lebih untuk kegiatan tertentu, sedang kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orang tua di rumah masih-masing.
  3. Homeschooling komunitas, terdiri gabungan dari homeschooling majemuk. Dalam jenis ketiga ini beberapa perwakilan keluarga berembuk untuk menyusun dan menentukan silabus, RPP, bahan ajar, sarana-sarana serta jadwal pembelajaran.

Apakah homeschooling diakui Pemerintah?

Ya, Pemerintah mengakui terhadap keberadaan homeschooling. Namun pihak yang melaksanakan homeschooling-lah yang harus proaktif melapor ke Diknas setempat agar nantinya dicatat, diakui, dan bisa mendapat ijazah dengan mengikuti ujian kesetaraan. Untuk ijazah SD adalah paket A, SMP adalah paket B, dan SMA adalah paket C. sedangkan sistem akreditasinya menggunakan ujian persamaan yaitu UN kesetaraan.

Siswa homeschooling juga dapat “BOS” (Biaya Operasional Sekolah), namun namanya bukan BOS tapi BOP (Biaya Operasional Pendidikan). Untuk paket A sebesar Rp 230.000,00 plus modul senilai Rp 74.000,00 per siswa. Paket B dapat Rp 260.000,00 plus Rp 80.000,00 per siswa, sedang paket C (setara SMA) mendapat Rp 285.000,00 ditambah Rp 84.000,00.

Apakah manfaat homeschooling dibanding sekolah formal? Ada beberapa manfaat, diantaranya:

  1. Anak-anak menjadi subyek bukan obyek.
  2. Materi pelajarannya sangat luas, tidak hanya seperti kurikulum yang ditetapkan Pemerintah.
  3. Peran orang tua menjadi sangat penting dan harus dominan.
  4. Fleksibel dalam penyelenggaraan pembelajaran.
  5. Penerapan contextual teaching and learning adalah model yang ampuh untuk homeschooling, dan sebagainya.

Nah, Anda sudah tahu kan, tentang keunggulan homeschooling? Tunggu apa lagi, silakan daftarkan putra-putri Anda ke lembaga homeschooling terpercaya.

Salah satu lembaga yang menyelenggarakan program pendidikan homeschooling yang sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam penyelenggaraan pendidikan yang bekualitas adalah Cendekia Homeschooling. Lembaga homeschooling di Yogyakarta ini diharapkan bisa memberikan solusi yang nyata dan pasti kepada para orang tua yang ingin memberikan pendidikan kepada putra-putrinya melalui homeschooling